Dahulu kala ada sebuah desa yang dilanda kemarau panjang penduduk desa Itu amat menderita. Mereka kelaparan dan kehausan. Lurah desa itu memiliki tujuh orang putri yang sangat cantik. Nama mereka adalah Dewi Merah, Dewi Jingga, Dewi Kuning, Dewi Hijau, Dewi Biru, Dewi Nila, Dewi Ungu. Biarpun cantik, mereka tidak sombong. Mereka ramah dan suka menolong siapa saja. Melihat penderitaan penduduk desanya mereka ingin membantu. Dewi Jingga mengusulkan, “Bagaimana bila kita berkorban untuk desa tercinta ini?”
“Bagaimana caranya?” tanya Dewi Hijau. “Kita semua memakai baju dengan warna seperti nama kita. Kita minta ayah menyediakan kayu bakar di tengah lapangan. Kayu itu kemudian dibakar. Hujan akan turun dan kita semua terjun ke dalam api. Kita akan menjadi awan”.” Dari mana kau dapat pikiran seperti itu?” tanya Dewi Hijau.”aku mengetahui cara itu dalam mimpiku semalam,” jawab Dewi Jingga. Bapak dan Ibu Lurah beserta penduduk kampung berkumpul dilapangan. Api menyala membakar tumpukan kayu. Asap mengepul. Langit menjadi gelap. Ketujuh putri Pak Lurah mengelilingi api. Tiba-tiba turunlah hujan yang amat lebat. Ketujuh putri itu masuk ke dalam kayu yang asapnya mengepul. Apinya mati tersiram oleh air hujan.
Pak Lurah dan Bu Lurah sanagt terkejut melihat kejadian ini. Mereka hanya dapat berteriak dan menangis pilu. Penduduk desa pun ikut besedih. Mereka menyadari bahwa ketujuh putri Pak Lurah itu berkorban untuk mereka.
Setelah hujan berhenti, bunga- bunga bermekaran dan pohon- pohon bertunas daun hijau. Namun, yang lebih mempesona, dilangit tampak awan bewarna- warni yang amat indah. Masyarakat menamainya PELANGI, artinya pengorbanan dan keindahan.